Jumat, 27 Maret 2015

ADOPSI

Aku memandangi mereka berdua yang duduk tepat di depan meja kerjaku. Ada satu perasaan yang mengganjal hatiku, namun tak bisa kuungkapkan kepada mereka secara langsung.

"Seperti yang sudah kami jelaskan di telepon kemarin," Mereka berpandangan sejenak dan saling melemparkan senyum. "Kami ingin mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan milik anda ini."

Yang satunya lagi menimpali. "Kami sudah lama merindukan anak yang akan membawa suasana baru di rumah. Dan kami mengharapkan, kalau bisa, anak yang masih berumur di bawah dua tahun. Laki-laki atau perempuan tidak masalah."

Aku hanya bisa tersenyum kecut. "Kami memiliki seorang anak asuh yang masih berumur di bawah dua tahun. Tapi, ehm, apa anda berdua yakin akan mengadopsi..."

"Tentu saja, kenapa tidak?! Dan yang saya heran, kenapa ada pengecut yang tega membuang bocah sekecil itu di panti asuhan! Benar-benar tidak tahu bersyukur! Coba bayangkan jika mereka di posisi seperti kami yang tidak mungkin bisa memiliki seorang buah hati!"

Aku sedikit kaget omonganku dipotong seperti itu. "Bukan...bukan seperti itu maksud saya. Kedua orang tua anak itu meninggal karena kebakaran beberapa waktu lalu."

Mereka berdua tampak mengangguk-angguk tanda paham. "Oh, maafkan kami. Memang kami ini agak sensitif jika sudah bicara masalah anak. Kami saling mencintai tapi tidak bisa memiliki seorang anak. Jadi anda tahulah..."

"Baiklah," Ucapku sambil menghela nafas. "Pertama-tama, saya perlu mencatat nama anda berdua. Untuk pengisian data saja."

"Oke baiklah, nama saya Adhi Pratama."

Aku mencatatnya. Lalu memandangi yang satunya. "Anda?"

"Saya Wisnu Adhiyaksa."   

2 komentar :